• Home
  • >
  • Female
  • >
  • Fakta yang Jarang Diketahui Tentang W.R. Soepratman

Fakta yang Jarang Diketahui Tentang W.R. Soepratman

Kamu pasti sudah tau siapa pencipta lagu kebangsaan kita, kan? Tapi, sudahkah kamu mengenal penciptanya dengan benar?

Menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia, apa sih aktivitas nasionalisme yang paling umum untuk dilakukan? Pasti menyanyikan lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya, kan? Kebiasaan ini sudah menjadi tradisi dan ditanamkan kepada siswa-siswi oleh semua sekolah di Indonesia. Jadi, nggak heran kalo lirik lagu ciptaan W.R. Soepratman ini sudah tertanam di otak kita.

Meski sudah menghafal lagu Indonesia Raya, nggak banyak orang yang benar-benar mengenal siapa itu W.R. Soepratman. Untuk menghormati pahlawan pencipta lantunan lagu yang menggetarkan jiwa patriotisme bangsa Indonesia, berikut ini adalah fakta-fakta yang harus kamu ketahui tentang beliau.

Kelahiran W.R. Soepratman

Ada banyak kontroversi tentang kelahiran W.R. Soepratman yang sampai sekarang masih diperbincangkan. Beberapa sumber mengatakan kalau beliau dilahirkan di _Meester Conelis_ yang sekarang dikenal dengan sebutan Jatinegara, tapi ada juga yang bilang kalau beliau dilahirkan di desa Somongari, Purworedjo.

Akhirnya perdebatan tersebut sudah diluruskan. Tempat kelahiran W.R. Soepratman adalah di Purworedjo, bukan di Jatinegara. Nama Wage diberikan oleh ibunya yang menandakan statusnya sebagai anak dusun.

Keluarga Sang Pencipta Lagu

Ayah dari W.R. Soepratman adalah seorang sersan batalyon VIII Hindia Belanda yang bernama Djoemono Senen. Beliau merupakan satu-satunya anak laki-laki di keluarganya. Sebelumnya beliau punya 2 saudara laki-laki, tetapi mereka meninggal dunia saat Wage (nama panggilan beliau) masih kecil.

Kedekatan beliau dengan kakaknya, Roekitjem, membuatnya menghabiskan masa kecil dengan tinggal bersama Roekitjem dan suaminya, Willem Van Eldik, di kota Makassar.

Pendidikan sejak dini

Karena masih dalam zaman penjajahan Belanda, Roekitjem memberikan nama _Rudolf_ kepada W.R. Soepratman dengan tujuan supaya beliau bisa mendaftar ke sekolah sekolah _Europese Lagere School_ dan mendapat status, serta perlakuan yang sama dengan orang-orang Belanda.

Beliau juga sempat mendalami bahasa Belanda selama 3 tahun sebelum melanjutkan pendidikan formalnya di sekolah bernama Normaalschool.

Bakat musik

Fakta yang Jarang Diketahui Tentang W.R. Soepratman1

Sumber: Wikimedia

Kecintaan W.R. Soepratman kepada musik baru ditemukan ketika beliau diajarkan memetik gitar oleh kakak iparnya. Nggak hanya gitar saja, beliau juga diajarkan menggesek biola oleh Roekitjem.

Karir hidup

Fakta yang Jarang Diketahui Tentang W.R. Soepratman2

Sumber: Wikimedia

Walaupun lebih dikenal sebagai pencipta lagu, W.R. Soepratman pernah menjalani karirnya sebagai seorang guru dan jurnalis. Karirnya sebagai guru di Sekolah Angka 2 nggak memakan waktu yang llama. Setelah itu, beliau langsung mengganti karirnya sebagai jurnalis di surat kabar Kaoem Moeda dan Sin Po.

Ketika beliau bekerja di surat kabar Sin Po, W.R. Soepratman mendapatkan banyak koneksi tokoh pergerakan nasional. Dari sinilah, perjalanan patriotisme beliau dimulai.

W.R. Soepratman memang kurang dikenal sebagai jurnalis, tapi prestasi beliau sebagai jurnalis mulai menonjol ketika beliau meliput Kongres Pemuda Indonesia I pada tahun 1926 dan Kongres Pemuda II pada tahun 1928.

Indonesia Raya

Fakta yang Jarang Diketahui Tentang W.R. Soepratman3

Sumber: Wikimedia

Ada kisah yang menjelaskan latar belakang terciptanya lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini awalnya diciptakan setelah W.R. Soepratman membaca majalah Timbul yang menantang pemusik Indonesia menciptakan lagu kebangsaan.

Fakta lain yang jarang diketahui adalah lantunan melodi Indonesia Raya ternyata terinspirasi oleh lagu kebangsaan Perancis La Marseille. Nggak hanya terinspirasi dari lagu kebangsaan Perancis, lagu Indonesia Raya juga dirumorkan mempunyai nada yang mirip dengan lagu asal Belanda “Pinda Pinda Lekka Lekka”.

”Bahaya”nya lirik lagu Indonesia Raya

Lagu kebangsaan ini diperdengarkan pertama kali di Kongres Pemuda Indonesia II dan dimainkan tanpa lirik. Hal ini bertujuan untuk melindungi beliau dari ancaman politik Hindia Belanda.

Ketika lagu ini resmi menjadi lagu yang wajib dimainkan di setiap kongres politik, barulah lirik Indonesia Raya dinyanyikan pertama kalinya, yaitu di pembubaran Kongres Pemuda II. Sejak lagu ini populer, pemerintah Hindia Belanda menjadi sangat khawatir dan beiau pun terpaksa menjadi buronan polisi Belanda.

Perjuangan W.R. Soepratman

Fakta yang Jarang Diketahui Tentang W.R. Soepratman4

Sumber: MufidPwt

Perjuangan W.R. Soepratman untuk melawan pemerintahan Belanda nggak hanya melalui lagu saja, tapi juga melalui buku karangannya yang berjudul Perawan Desa. Namun, karena menceritakan keburukan Belanda, buku ini akhirnya disita oleh pemerintah.

W.R. Soepratman melarikan diri ke Surabaya selama beberapa tahun. Di sanalah beliau bertemu Bung Tomo dan menciptakan beberapa lagu lainnya, seperti Matahari Terbit (1938).

Lagu ini dianggap memuja Jepang yang pada saat itu dianggap seperti pahlawan Indonesia, dan disiarkan secara terang-terangan. Akibatnya, W.R. Soepratman ditangkap dan dipenjarakan. Setelah peristiwa ini, kesehatan beliau menjadi sangat menurun. Akhirnya, beliau meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938.

Istri W.R. Soepratman

Meskipun buku-buku sejarah mengatakan beliau nggak menikah dan nggak punya anak, ada desas-desus yang mengatakan kalau beliau sebenarnya mempunyai pacar yang bernama Salamah.

Tapi, karena keluarganya yang condong ke adat Belanda, beliau nggak dikasih restu buat menikah sama Salamah.

Sejarah mengenai beberapa pahlawan nasional seperti W.R. Soepratman jarang banget dibicarakan. Pelajaran di sekolah pun hanya mengajarkan sekilas tentang kehidupan para pahlawan nasional Indonesia. Untuk menambah pengetahuan tentang tokoh-tokoh nasional ataupun internasional, bisa dipelajari di sini. Kamu juga bisa melihat beberapa buku ini supaya nggak panik pas ditanyain orang asing tentang sejarah negeri sendiri.

Sumber gambar utama: Wikimedia

Categorised in: , ,

This post was written by Sharon Hambali